Digital ASEAN Bakal Mencapai Rp30,4 Kuadriliun

Digital ASEAN Bakal Mencapai Rp30,4 Kuadriliun

Jakarta, LINews – Indonesia akan menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) 2023 di Jakarta Convention Center, 5-7 September.

Pada tahun ini Indonesia, selaku ketua, mengusung tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth, yang memberikan makna peran penting ASEAN bagi ekonomi kawasan dan dunia.

Pertemuan KTT ke-43 ASEAN turut membahas beberapa tema penting, mulai dari Code of Conduct terkait Laut Cina Selatan, South East Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ), ASEAN Maritime Outlook, ASEAN Outlook in Indo Pacific (AOIP), dan isu terkait Myanmar.

Diharapkan pertemuan KTT ke-43 ASEAN di antaranya juga bisa menghasilkan beberapa kesepakatan penting, seperti penguatan infrastruktur ASEAN, food security, blue economy dan green economy, serta digital economy dan payment ecosystem.

Membincang soal digital economy atau ekonomi digital, ASEAN memang memiliki potensi yang besar, termasuk dengan adanya raksasa e-commerce hingga jasa ride-hailing di kawasan ini plus pasar yang besar.

Indonesia sendiri memiliki populasi terbesar di kawasan, hingga 280 juta, yang menjadi modal penting di tengah penetrasi internet yang cukup dalam dan pengguna internet yang juga tak kalah besar.

Nilai ekonomi digital ASEAN diproyeksi berpotensi meningkat dua kali lipat mencapai US$2 triliun atau setara Rp30.400 triliun (kurs=Rp15.200/US$) pada 2030 mendatang. Ini karena adanya Digital Economic Framework Agreement (DEFA).

Hal tersebut ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam simposium “Digital Economy and Sustainibility” di Jakarta, pada 24 Agustus lalu.

Sebelum adanya DEFA, kata Airlangga, dikutip dari Kominfo, ekonomi digital ASEAN diprediksi tumbuh senilai US$330 miliar pada 2025, hingga US$2 triliun pada 2030.

DEFA merupakan kerangka kerja sama yang menyediakan peta jalan (roadmap) komprehensif untuk memberdayakan dunia usaha dan pemangku kepentingan (stakeholder) di kawasan ASEAN, melalui percepatan pertumbuhan perdagangan, peningkatan interoperabilitas, penciptaan lingkungan digital yang aman, serta peningkatan partisipasi UMKM.

Menko Airlangga mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia berkontribusi sebanyak 40% dari total nilai ekonomi digital di wilayah ASEAN. Oleh karena itu, dengan hadirnya DEFA (Digital Economy and Financial Authority), perkiraan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia juga mencapai US$400 miliar atau Rp12.600 triliun pada 2030.

Diketahui gross merchandise value (GMV) wilayah ASEAN sebesar US$194 miliar atau setara Rp2.948,8 triliun pada 2022, mengalami peningkatan sebesar 90 persen sejak 2019.

“Di Indonesia, GMV tercatat US$70 miliar, dan pada 2025 nanti diperkirakan akan tumbuh sekitar US$150 miliar. Asia Tenggara juga menjadi rumah bagi lebih dari 4.500 startup, serta di Indonesia sendiri ada lebih dari 2.000 startup,” jelas Menko Airlangga.

Menurut e-Conomy Sea 2022 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, ada 5 sektor utama di ekonomi digital kawasan Asia Tenggara, yakni e-commerce, transportasi dan pengiriman makanan, perjalanan online, media online, dan jasa keuangan.

Sektor tersebut terus bertumbuh ditopang oleh pertumbuhan jumlah pengguna internet yang besar di kawasan ini.

Per 2022, jumlah pengguna internet di ASEAN mencapai 460 juta, tumbuh 100 juta orang dari 3 tahun sebelumnya.

Menurut e-Conomy Sea 2022, dengan semakin matangnya adopsi digital, pemahaman perilaku penggunaan di seluruh segmen konsumen diperlukan untuk membuka ruang kepala tambahan untuk pertumbuhan ekonomi digital ASEAN.

Mayoritas pemain digital juga sedang mengalami pergeseran prioritas mulai dari akuisisi pelanggan baru hingga keterlibatan (engagement) yang lebih dalam dengan pelanggan yang sudah ada.

Ekonomi digital di Asia Tenggara mendekati GMV US$200 miliar pada 2022-tiga tahun lebih awal dari mengharapkan dari tim e-Conomy Sea.

Potensi pertumbuhan ekonomi digital di ASEAN terlihat berkelanjutan. Dukungan dari pemerintah dan investasi dalam infrastruktur digital, serta perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengarah ke belanja online dan layanan digital, menjadi faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan ini.

Terobosan teknologi seperti pembayaran digital, fintech, dan layanan kesehatan online semakin banyak merambah ke wilayah ASEAN. Hal ini menciptakan peluang besar untuk pemain di sektor teknologi dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital lebih lanjut.

Seperti disebut di atas, jumlah penduduk ASEAN yang memiliki akses ke internet terus meningkat. Ini membuka peluang lebih besar untuk penetrasi layanan digital, termasuk pendidikan online, hiburan digital, dan lainnya.

ASEAN bukan hanya pasar lokal, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pintu gerbang menuju pasar global. Banyak perusahaan teknologi di ASEAN telah mulai memperluas ke pasar regional dan internasional.

Dalam konteks ini, ASEAN dianggap sebagai salah satu wilayah yang paling menarik untuk investasi dalam ekonomi digital di dunia.

Potensi pertumbuhan yang pesat, kontribusi Indonesia yang signifikan, dan inovasi teknologi yang terus berkembang menjadikan ASEAN sebagai tempat yang menarik bagi perusahaan dan individu yang berkepentingan untuk terlibat dalam ekonomi digital yang sedang berkembang pesat di wilayah ini.

(Vhe/Bay)

Tinggalkan Balasan